Unduh Aplikasi QuBisa
15 poin

Sindrom Telat Menjadi Masalah Kejiwaan

1.9k penonton · 6 September 2021

Bagikan

Instruktur

Instructor Nelly Mathias

Nelly Mathias

Professional Facilitator & Consultant

Nelly Mathias is a Learning Partner and Growth Buddy, as well as the Founder and Lead Facilitator of Splashing Public Speaking for Kids & Teens. With a strong background as both practitioner and consultant, she brings engaging, practical, and results-driven learning experiences.
Lihat Semua >

Deskripsi

Kebiasaan terlambat di negara kita sering dianggap hal yang biasa dan seolah telah menjadi budaya. Namun, seharusnya budaya terlambat ini tidak terjadi untuk urusan kantor atau pekerjaan. Terlambat kerja seolah menandakan bahwa Sobat QuBisa tidak memiliki motivasi untuk berprestasi di lingkungan kerja. Jika terus dipelihara, kebiasaan ini dapat menjadi suatu sindrom.

 

Sindrom adalah kumpulan gejala yang muncul dan menandai adanya ketidaknormalan, dan dapat terjadi karena faktor situasional dan psikologis. Faktor situasional sifatnya tidak pasti dan masih bisa berubah, tetapi tidak demikian dengan faktor psikologis.

 

Terlambat bisa saja berkembang menjadi kebiasaan yang memang terjadi karena dibiasakan. Apabila ini terus dibiarkan, tampaknya Anda perlu berkonsultasi dengan psikolog kepribadian bagaimana cara menghilangkan kebiasaan terlambat yang sudah mengarah kepada masalah psikologis ini.

 

Budaya Indonesia yang mewajarkan keterlambatan memang membuat banyak orang enggan datang tepat waktu. Namun, jangan sampai ini kemudian dijadikan suatu kebiasaan karena sindrom terlambat sangat berpotensi menjadi masalah kejiwaan. Uraian selengkapnya mengenai hal ini dapat Sobat QuBisa simak dalam video microlearning di atas.

 

Selain video ini, saksikan pula beragam video pembelajaran lainnya di platform belajar online Indonesia dan webinar gratis QuBisa, seperti:

 

 

 

0Komentar

no profile