Meningkatkan Produktivitas dengan Konsep Ikigai

Motivation | 09 Jun 6 menit membaca
Magdalena Amelia Anur Septawati Waruwu Magdalena Amelia Anur Septawati Waruwu
Meningkatkan Produktivitas dengan Konsep Ikigai

Jika dibandingkan dengan Indonesia, etos kerja orang Jepang memang jauh lebih baik. Mulai dari disiplin waktu hingga profesional dalam bekerja, yang sedikit banyak disebabkan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) mereka yang memang lebih baik. Kenapa bisa begitu? Konon katanya dipengaruhi oleh konsep Ikigai dalam kehidupan mereka. Pertanyaannya sekarang, apakah bisa meningkatkan produktivitas dengan konsep Ikigai?

Mengenal Konsep Ikigai dalam Masyarakat Jepang

Sekadar informasi, konsep Ikigai adalah sebuah tujuan hidup yang menjadi filosofi mayoritas orang Jepang. Konsep tersebut dipercaya membuat mereka dapat menjalankan pekerjaan secara bahagia, setulus hati, dan tentunya jadi lebih produktif. Kenapa Anda perlu mengenal konsep Ikigai dan manfaatnya dalam hidup?

Fakta yang banyak terjadi di belahan dunia mana pun. Ada orang yang bekerja demi kehidupan sehingga mencari yang berpenghasilan besar. Sayangnya, mereka malah selalu merasa bosan dan tertekan. Namun di lain pihak, ada juga orang yang penghasilannya serba kecukupan dan tak berlebihan, tapi tampak bahagia dan sangat puas dengan hidupnya. Kondisi kedua inilah yang dianggap orang Jepang sudah memahami betul apa maksud dari konsep Ikigai itu sendiri.

Kalau dijelaskan secara harfiah, ikigai adalah sebuah istilah bahasa Jepang yang terdiri dari dua kata, yakni iki berarti kehidupan dan gai bermakna nilai. Sehingga jika diartikan merupakan nilai kehidupan. Orang-orang Jepang percaya bahwa manusia harus punya tujuan dan nilai dasar hidup agar mereka senantiasa bahagia, produktif, dan berusia panjang.

Penerapan Konsep Ikigai dalam Dunia Pekerjaan

Dalam diagram Ikigai yang diyakini orang Jepang, ada empat hal utama yang membentuk filosofi hidup itu sendiri, yakni hal-hal yang Anda sukai, hal-hal yang Anda kuasai, hal-hal yang dibutuhkan oleh lingkungan/masyarakat, dan hal-hal yang membuat Anda dibayar. Jika keempat hal itu saling beririsan, maka akan ditemukan sebuah pekerjaan impian.

Hal inilah yang membuat orang-orang Jepang yakin kalau meningkatkan produktivitas dengan konsep Ikigai bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Ikigai mengajarkan mereka untuk menemukan apa yang benar-benar diinginkan. Seperti apa contohnya jika diterapkan dalam pekerjaan? Berikut ulasannya:

Hal-Hal yang Anda Sukai

Untuk bisa menerapkan konsep Ikigai dalam kehidupan sehari-hari seperti orang Jepang, Anda harus menemukan terlebih dulu hal-hal yang Anda sukai. Setiap orang tentu memiliki kegemaran yang ternyata tanpa disadari bisa membawa mereka menemukan tujuan hidup sesungguhnya. 

Ikigai dapat meningkatkan produktifitas kerja

Jika perlu Anda tulis, apa yang digemari seperti travelling, bertemu banyak orang dan berkomunikasi secara persuasif, meng-influence orang lain, menulis, melakukan sesuatu yang baru, berbaur dengan alam, dan sebagainya. Catat saja dulu semua kegiatan yang Anda sukai tersebut.

Hal-Hal yang Anda Kuasai

Setelah mengetahui hal-hal yang disukai, Anda bisa lanjut dengan merumuskan apa saja yang bisa Anda lakukan. Tanyakan pada diri sendiri, apa saja yang bisa Anda lakukan dengan baik, bahkan lebih dari orang lain. Misalkan, mampu memotret dengan baik, bisa menyunting video jadi menarik, pandai menulis puisi, jago bersosialisasi dan adaptasi dengan lingkungan baru, hingga mengatur waktu.

Hal-Hal yang Membuat Anda Dibayar

Masih berkaitan dengan meningkatkan produktivitas dalam bekerja memanfaatkan Ikigai, maka hal berikutnya adalah menemukan hal-hal yang bisa membuat Anda dibayar. Misalkan saja Anda pernah menjadi pengajar untuk anak-anak SD dan memperoleh bayaran, lalu Anda pernah jadi juru potret di sebuah kegiatan sekolah, atau hasil tulisan yang dimuat di media online dan mendapat penghasilan.

Hal-Hal yang Dibutuhkan Lingkungan/Masyarakat

Terakhir agar bisa menemukan pekerjaan impian berdasarkan Ikigai, ketahui apa saja yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Contohnya, masyarakat butuh informasi tempat wisata terbaru karena sudah bosan ada di rumah terus. Lingkungan butuh foto-foto mengenai keanekaragaman budaya di Indonesia yang ternyata jauh lebih baik daripada budaya negara lain.

Nanti dari berbagai hal yang sudah Anda rumuskan ini, akan ditemukan benang merah yang saling berhubungan. Contoh, Anda suka traveling dan menulis, lalu bisa menyunting foto/video, pernah memperoleh bayaran saat artikel dimuat media online. Maka profesi sebagai seorang traveller blogger yang mengunggah video di media sosial bisa jadi pertimbangan. 

Dengan begitu masyarakat bisa dapat informasi terbaru mengenai keindahan alam dan budaya Tanah Air lewat Anda. Di saat yang sama, Anda bakal menjalani kehidupan yang jauh lebih bahagia, bermakna, berpenghasilan, dan tentunya menyenangkan. Lantaran sangat bahagia menjalankan profesi, Anda akan jadi lebih produktif.

Benarkah Konsep Ikigai Bikin Masyarakat Jepang Berusia Panjang dan Bahagia?

Jika dikaitkan dengan contoh sebelumnya, bukankah menjadi pengajar di institusi pendidikan juga bisa dipilih? Apalagi kalau Anda pernah menjadi pengajar anak-anak SD dan memperoleh bayaran menggiurkan. Apakah salah jika Anda memilih pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang pendidikan? Tentu tidak salah! Namun apa yang Anda lakukan itu adalah sebatas profesi, bukan memenuhi konsep Ikigai.

Konsep ikigai membuat bahagia

Seperti yang sudah disebutkan. Ikigai adalah sebuah keseimbangan dalam hidup, yang mana kebahagiaan diperoleh dari pekerjaan yang memang sangat disukai, kemudian Anda memperoleh bayaran, dan apa yang Anda lakukan memberikan pengaruh positif pada lingkungan. Banyak yang percaya bahwa saat pekerjaan dilakukan dengan filosofi hidup yang tepat, Anda akan selalu produktif dan berumur panjang.

Hal inilah yang membuat Jepang merupakan ’rumah’ bagi penduduk tertua di dunia, yakni 87 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk laki-laki. Seorang penulis bernama Dan Buettner meyakini bahwa konsep Ikigai yang sedikit banyak membuat orang-orang tua di Jepang tetap bahagia karena mereka merasa puas sudah melakukan hal terbaik di usia produktif yang telah terlewat dalam hal pekerjaan.

 

Artikel Terkait

Konten Terkait

Ke Atas